KeadilanAllah SWT Yag Maha Sempurna. Sebuah kisah pada zaman Rasulullah saw. ada seorang hamba atau shahabat Rasulullah saw. yang tidak memiliki amalan istimewa bahkan dianggap sepele dan ringan, namun Allah menyapa terhadap jiwa-jiwa yang benar dan istiqomah dengan sapaan sebagai penduduk surga kelak di akhirat. TiadaAmpun bagi yang Menyekutukan Allah. TAFSIR Al-Mishbah kali ini membahas keadilan Allah SWT dalam memberikan pembalasan kepada hamba-Nya. Perkara itu tercantum dalam Quran Surah As-Saffat. Diawali dari ayat 33, dijelaskan mengapa orang-orang yang tidak taat kepada Allah mendapat siksa. Penyebabnya ialah hal pokok yang tidak bisa ditawar-tawar. Jikasifat-sifat itu telah ia miliki, insya Allah ia akan menjadi pemimpin yang baik dan amanah. Masyarakat yang baik, dipimpin oleh pemimpin yang baik pula, insya Allah akan menjadi negeri yang aman, damai, sejahtera dan bermartabat. Negeri yang toyyibatun warabun ghofur. Amin. Selamat melaksanakan Pilkada 2010. (Juli 2011) AllahSWT mengingatkan kita, "Dan, jika Sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): "Ya Tuhan Kami, Kami telah melihat dan mendengar, Maka kembalikanlah Kami (ke dunia), Kami akan mengerjakan amal saleh, Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang yakin" (QS.As-Sajadah: 12). 3 Hadits di atas merupakan sanggahan bagi Jabariyah yang menyatakan bahwa manusia itu dipaksa oleh Allah dalam berbuat. Dalam hadits ini jelas dinyatakan bahwa manusia itu punya kehendak dan amalan dari dirinya sendiri. 4. Balasan amalan hamba dihitung dengan bilangan. 5. Allah mewakilkan pada malaikat untuk mencatat kebaikan dan kejelekan. hambaAlloh SWT yang saleh akan mendapat balasan smpurna berupa.. ★ Ilmu Tajwid, Ikhtiar dan Tawakkal SMP MTs Kelas 9. hamba Alloh SWT yang saleh akan mendapat balasan smpurna berupa.. A. mahir berbahasa arab. B. kecerdasan otak. C. kesehatan dan harta melimpah. Latihan Soal Online adalah website yang berisi tentang latihan soal mulai Orangyang menunaikan hal-hal yang wajib secara sempurna, berarti ia mencintai Allah SWT. Sedangkan orang yang masih menambah dengan amalan-amalan sunah, ia dicintai Allah SWT. Dalam hadis qudsi dikatakan, "Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku; yang lebih aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardukan kepadanya. HambaAllah Swt. yang saleh akan mendapat balasan sempurna berupa . a. mahir berbahasa Arab c. kesehatan dan harta melimpah b. kecerdasan otak d. surga di akhirat kelak Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti 155 B. Jawablah soal-soal berikut ini! Hambaallah swt yang saleh akan mendapat balasan sempurna berupa? arab B.kecerdasan otak C.kesehatan dan harta melimpah D.surga di akhirat - 18 Ivana7348 Ivana7348 12.10.2018 Oketeman-teman tak usah beralama-lama lagi, berikut ini akan saya share untuk kunci jawaban agama Halaman 153 - 156 Kelas 9 PG Dan Esai. A. Berilah tanda silang (X) pada huruf a, b, c, atau d pada jawaban yang. paling tepat ! 1. Ketika sedang membaca al-Qur'an, kita menemukan lafaz yang. Kemudianakan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna(41). Dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahannya (segala sesuatu) (42)." (QS. An-Najm : 39-42) Kandungan Al-Qur'an Surat An-Najm Ayat 39-42. Melalui ayat ini Allah Swt. berjanji akan memberi balasan sempurna kepada orang yang mau berusaha keras. d Memohon kemudahan kepada Allah Swt. 10. Hamba Allah Swt. yang saleh akan mendapat balasan sempurna berupa .. a. mahir berbahasa Arab. c. kesehatan dan harta melimpah. b. kecerdasan otak. d. surga di akhirat kelak. B. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini ! 1. Tuliskan bacaan ra tafkhim yang terdapat dalam QS. Az-Zumar/39 :53 2 MemohonPertolongan Allah SWT Dengan Kalimat Thayyibah Hauqalah. Manusia satu-satunya makhluk paling sempurna. Karena hanya manusia yang mendapat karunia akal dari Allah Swt. Dengan akal kita menjadi tahu bagaimana cara hidup yang baik, dapat memenuhi kebutuhan hidup yang layak dan sebagainya. Pemanfaatan akal secara maksimal oleh manusia KajianTafsir Surah Al-A'raaf ayat 137. Pewarisan bumi untuk hamba-hamba Allah yang saleh dan dibinasakannya orang-orang yang kafir. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ وَأَوْرَثْنَا الْقَوْمَ الَّذِينَ كَانُوا يُسْتَضْعَفُونَ مَشَارِقَ الأرْضِ 5 Ketika seseorang memiliki sifat raja' maka ia akan bersemangat untuk menggapai rahmat Allah Swt. yang Maha Pengampun, Maha Pengasih dan Penyayang. Meskipun bergelimangan dosa, rasa optimis mendapat ampunan Allah Swt. tetap ada dalam hatinya. Namun perlu diingat bahwa sifat raja' ini harus bersanding dengan sifat khauf. cgHMCaP. — Berbahagialah manusia yang mendapat status ibadurrahman atau menjadi hamba-hamba Allah Yang Mahapengasih. Maka Allah SWT akan memberikan segala kenikmatan, perlindungan, kasih sayang kepada hamba-Nya itu. Pendakwah yang juga Wakil Ketua Lembaga Dakwah Khusus Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr KH Shobahussurur Syamsi, menjelaskan dalam Alquran terdapat banyak ayat yang menjelaskan tentang siapa-siapa saja manusia yang mendapat status sebagai ibadurrahman. Seperti digambarkan pada surat Fathir ayat 28 وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ “Dan demikian pula di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya dan jenisnya. Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahapengampun.” Menurut Kiai Shobah ibadurrahman berarti adalah hamba yang takut kepada Allah SWT yang disebut ulama. Maka menurut Kiai Shobah seorang ulama sejatinya bukan saja orang yang memiliki keilmuan yang luas namun memiliki takut kepada Allah SWT. "Jadi mestinya semakin banyak ilmu semakin tunduk, patuh, berislam, berpasrah, takut kepada Allah SWT. Itulah ibadurrahman yang menjadi ulama," kata Kiai Shobah saat mengisi kajian yang diselenggarakan Majelis Tabligh Muhammadiyah di Masjid At Tanwir Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta Pusat yang juga disiarkan secara virtual beberapa waktu lalu. Selain itu ibadurrahman juga adalah hamba-hamba Allah SWT yang diberikan warisan yakni Alquran sebagaimana digambarkan dalam surat Fathir ayat 32. ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ “Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” Menurut Kiai Shobah, dalam ayat tersebut diketahui bahwa ada tiga model Muslim yang menerima Alquran. Pertama disebut dzalimun linafsih yaitu orang Muslim yang telah diwariskan Alquran tapi tidak memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Maksudnya orang tidak membacanya, mengkajinya, dan mengamalkan Alquran. Baca juga Mualaf Erik Riyanto, Kalimat Tahlil yang Getarkan Hati Sang Pemurtad Kedua, muqtashid yakni orang Muslim yang setengah-setengah dalam mengamalkan Alquran maksudnya ia membaca dan mengamalkan Alquran secara tanggung dan masih terus berbuat maksiat atau amalnya masih setengah-setengah atau pertengahan. Ada juga model sabiqun bil khairat atau orang-orang yang senantiasa berlomba-lomba menjadi yang terbaik. BACA JUGA Update Berita-Berita Politik Perspektif Klik di Sini Kunci jawaban Pendidikan Agama Islam SMP Kelas 9 halaman 118, 119 Bab 6BismillahirrohmannirrohimKunci jawaban PAI SMP kelas IX halaman 118, 119 Bab 6 merupakan alternatif Jawaban dari soal-soal Buku PAI kelas 9 SMP/MTs Bab 6 Meraih Kesuksesan dengan Optimis, Ikhtiar, dan Tawaka semester 1. Jawaban yang kami berikan hanya berupa jawaban alternatif saja, sebagai referensi bagi adik-adik . Rajin lah belajar dan membaca dari berbgai sumber agar khasanah pengetahuannya bertambah. Sebaiknya adik-adik mencoba alternatif jawaban sendiri. Dengan adanya pembahasan kunci jawaban seperti ini diharapkan dapat membantu peserta didik Kelas IX SMP/MTs dalam menjawab soal-soal baik sebagai Tugas Individu maupun Kelompok. Dan Juga dapat menjadi Referensi untuk soal ulangan seperti soal penilaian harian , soal penialain tengah semester , soal penilaian akhir tahun, maupun tugas pekerjaan rumah PR. Semoga bermanfaat bagi adik jawaban PAI SMP Kelas 9 halaman 118, 119 Semester 1Ayo BerlatihA. Berilah tanda silang X pada huruf a, b, c, atau d pada jawaban yang paling tepat !1. Lafaz Allah sering disebut dengan ....a. lafzul karamah b. lafzul jalalah c. lafzul Allahd. lafzul aliyah2. Perhatikan bacaan berikut ini . Sebelum lafaz Allah didahului harakat kasrah, maka dibaca ....a. tarqiq b. tafkhimc. boleh tarqiq boleh tafkhimd. tidak boleh tarqiq dan tafkhim7. Qs. An Najm/ 53 39-42 berisi tentang ....a. perintah Allah Swt. untuk ikhtiar dan bekerja kerasb. larangan berputus asa terhadap rahmat Allah Allah Swt. akan memberi pahala orang yang tawakald. Perintah Allah Swt. agar bermusyawarah8. Arti potongan ayat berikut adalah....a. Maka mohonkanlah ampun merekab. Maka sambunglah tali silaturahmic. Maka bertawakallah kepada Allah Maka optimislah kalian semua9. Allah Swt. memerintahkan hamba-Nya untuk memperbanyak istigfar. Arti istigfar adalah .... a. Memohon ampun kepada Allah Memohon pertolongan kepada Allah Memohon keselematan kepada Allah Memohon kemudahan kepada Allah Swt 10. Hamba Allah Swt. yang saleh akan mendapat balasan sempurna berupa .....a. mahir berbahasa Arab b. kecerdasan otak c. kesehatan dan harta melimpah d. surga di akhirat kelakKunci jawaban Pilihan Ganda PAI kelas 9 Halaman 1421. B2. A3. B4. C5. C6. C7. A8. A 9. A10. DB. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini !1. Sebutkan bacaan ra tafkhim yang terdapat dalam Az zumar/ 39-53 !Jawaban Bacaan ra tafkhim yang terdapat dalam az-Zumar/3953 adalah أَسْرَفُوا, رَحْمَةِ, يَغْفِرُ, الْغَفُورُ, الرَّحِيمُ. Ra tafhim adalah ra yang dibaca secara tebal2. Sebutkan bacaan lam jalalah tafkhim yang terdapat dalam Ali Imran/3 159 !Jawaban Hukum lam tafhim pada ayat 159 surah ali imran adalah مِّنَ اللّٰهِ, عَلَى اللّٰهِ dan اِنَّ اللّٰهَ. Pada ayat tersebut Lam jalalah dibaca tafhim karena sebelum lam terdapat huruf hijaiyyah berharkat Sebutkan bacaan ra tarqiq yang terdapat dalam Q. S. Ali Imran/3 159 !Jawaban ra tarqiq1. وَاسْتَغْفِرْ2. وَشَاوِرْهُمْ3الْأَمْرِ4. Jelaskan pentingnya ikhtiar bagi kehidupan manusia !Jawaban Ikhtiar adalah melakukan segala cara yang halal agar kita mencapai suatau tujuan yang telah kita tentukan sesuai ketentuan yang Allah tetapkan . Ikhtiar sangat penting bagi kehidupan manusia karena orang yang berikhtiar dengan sungguh-sungguh maka akan mudahkan ia dalam mencapai Jelaskan pengertian tawakal!Jawaban Pengertian tawakal adalah sikap berserah diri dengan pasrah terhadap segala usaha yang telah diupayakan. Manfaat yang akan diperoleh orang yang bertawakal adalah sebagai berikut 1. Semakin mendekatkan diri kepada Allah Menghilangkan perilaku sombong karena kita sadar tidak ada daya kecuali Allah Memperoleh pahala dan menjadi hamba yang dicintai oleh Allah Menumbuhkan sikap senantiasa berkhusnudzon kepada Allah Terhindar dari perasaan Pembaca Kunci Jawaban PAI SMP Kelas 9 halaman 118, 119 Bab 6 buku siswa kelas 9 SMP/MTs kurikulum ini hanya sebagai alternatif saja Untuk itu diperlukan kebijakan Bapak/Ibu untuk memilah dan menggunakan kata semoga bermanfaat, dan jangan lupa memberikan saran dan komentar positif anda pada Kolom yang tersedia untuk kemajuan website ini. Beberapa orang dari kalangan sufi mengatakan bahwa amal ibadah yang dilakukan karena mengharapkan pahala, apalagi karena takut mendapatkan siksa jika meninggalkannya, menunjukkan rendahnya kualitas amal seseorang. Hal ini sebagaimana dikutip oleh Sayyid Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam sebuah kitabnya sebagai berikut وما وقع في كلام بعض اهل التصوف مما نقصا أو انحطاطا في حال من يعمل غلى رجاء الثواب أو خوف العقاب. Artinya “Sebagaimana terdapat dalam ucapan sebagian ahli tasawuf tentang rendahnya kualitas seseorang yang beramal karena mengharap pahal atau takut siksa” lihat Nafaisul Uluwiyyah fi al-Masail al-Sufiyyah [Dar al-Hawi, Cetakan I, 2003], hal. 51. Tentu saja pernyataan itu membuat banyak orang awam mengalami kebingungan karena faktanya sebagian besar dari mereka beribadah karena adanya pahala dan dosa sebab hal ini merupakan janji Allah sebagaimana disebutkan di dalam dua ayat Al-Qur’an sebagai berikut وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ Artinya “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan yang beramal saleh, bahwa untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” QS al-Maidah 9. ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ شَآقُّوا۟ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ ۖ وَمَن يُشَآقِّ ٱللَّهَ فَإِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ Artinya “Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” QS al-Hasyr 4. Atas pernyataan dari sebagian kalangan sufi di atas, Sayyid Abdullah al-Haddad memberikan tanggapan di halaman yang sama dalam kitab tersebut sebagai berikut بأن ذالك رجاء محمود وسعي مبارك مشكور. وعليه يعمل السلف والخلف من صالحي المؤمنين، فإن العبد خلق ضعيفا فقيرا لا غني به عن فضل ربه الغني الكبير. Artinya “Sesungguhnya beramal karena mengharapkan pahala adalah perbuatan terpuji, usaha yang penuh barakah dan menguntungkan. Orang-orang salaf dan khalaf masyarakat dulu dan sekarang dari kalangan mukminin yang saleh, beramal juga dengan berpengharapan seperti itu. Manusia sesungguhnya diciptakan dalam keadaan lemah dan fakir; ia membutuhkan karunia Tuhannya Yang Mahakaya.” Dari kutipan di atas dapat diuraikan hal-hal sebagai berikut Pertama, beramal karena mengharapkan pahala bukanlah persoalan tercela. Amal seperti itu terpuji dan diberkati oleh Allah subhahanahu wa ta’ala. Mengharapkan pahala dari Allah sama saja mengharapkan balasan di akhirat. Jadi pahala itu bernilai ukhrawi dan bukan duniawi sehingga seseorang yang beramal karena mengharapkan pahala tetap tergolong seorang hamba yang ikhlas. Kedua, para salafussalih orang-orang salih zaman old dan khalafussalih oran-orang salih zaman now juga mengharapkan pahala dalam beramal ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka tidak mengharapkan balasan atau penghargaan yang bersifat duniawi seperti popularitas di tengah masyarakat, kedudukan terhormat, ataupun harta kekayaan yang berlimpah. Ketiga, manusia itu sesungguhnya lemah sepanjang zaman dan karenanya membutuhkan karunia Allah. Hanya Allah yang bisa memenuhi apa yang menjadi kebutuhan manusia dengan karunia-Nya. Karunia itu berupa pahala sebagai bekal hidup abadi di akhirat nanti. Namun demikian Sayyid Abdullah bin Alawi al-Haddad tidak bermaksud menyalahkan pernyataan kalangan sufi sebagaimana disebutkan di atas. Justru beliau memberikan penjelasan apa yang sebenarnya mereka maksudkan sebagai berikut فذالك محمول على قصد التنبيه به على أن الذي يعمل لمجرد امتثال الأمر أفضل من الراجي والخائف والأمر كذالك Artinya “Ucapan itu mengandung maksud sebagai peringatan bahwa sesungguhnya beramal karena semata-mata ingin melaksanakan perintah Allah lebih utama daripada karena berharap mendapatkan pahala dan takut terkena siksa. Begitulah masalahnya.” Jadi, beramal semata-mata karena ingin melaksanakan perintah Allah lebih mulia daripada karena berharap mendapatkan sesuatu atau sebaliknya karena takut sesuatu. Logikanya jika seseorang beramal karena dijanjikan mendapatkan sesuatu, maka jika Allah tidak menjanjikan apa pun, maka orang tersebut tidak akan beramal. Demikian pula, jika seseorang beramal karena takut ancaman, maka ketika ancaman tidak ada, ia tidak akan beramal. Kesimpulannya, beramal karena berharap mendapatkan pahala diperbolehkan. Orang-orang dengan tipe seperti ini disebut oleh Sayyid Abdullah al-Haddad sebagai al-rajun. Demikian pula, beramal karena takut mendapat siksa jika meninggalkannya juga tidak menjadi persoalan. Orang-orang dengan tipe seperti ini disebut al-khaifun. Sedangkan orang-orang yang beramal semata-mata karena ingin melaksanakan perintah Allah disebut al-arifun. Ketiga tipologi itu, menurut Sayyid Abdullah al-Haddad, merupakan maqam-maqam di mana tipologi yang disebut terakhir merupakan yang tertinggi. Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama UNU Surakarta. Oleh HA Siraj Munir ألحَمْدُ لِلّهِ. ألحَمْدُ لِلّهِ الذِي جَزَى العَامِلِيْنَ. وأحَبَّ الطَّائِعِيْنَ. وَأبْغَضَ العَاصِيْنَ. أشْهَدُ أنْ لاَ اِلهَ اِلااللهُ. وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمّدًا رَسُوْلُ اللهِ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمّدٍ الهَادِي اِلَى صرَاطِكَ المُسْتَقِيْمِ. وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ الْقَوِيْمِ. أمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اتَّقُوْاللهَ الّذِي لا اِلهَ سِوَاهُ وَاعْلَمُوا أنَّ اللهَ أمَرَكُمْ بِالطَّاعَةِ والْعِبَادَةِ. وَنَهَاكُمْ بِالظُّلْمِ وَالْمَعْصِيَةِ. فَلا يَكُوْنُ ذلِكَ اِلاَّ لِخُسْرَانِكُمْ وَهَلالِكُمْ. وَلَكِنِّ اللهَ يَرْحَمُكُمْ وَأنْزَلَ نِعَمَهُ عَلَيْكُمْ. فَأَطِيْعُوْهُ وَاعْمَلُوا الصَّالِحَاتِ وَاجْتَنِبُوا عَنِ السَّيِّئَاتِ. لِأَنَّ اللهَ جَزَى أَعْمَالَكُمْ. أَثَابَكُمْ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ. وَعَذَّبَكُمْ بِسَيّءِ أَفْعَالِكُمْ Jama’ah Shalat Jum’at yang berbahagia Umat Islam tentu mengetahui, mengakui dan menyadari dengan sepenuhnya, bahwa dirinya diciptakan oleh Allah SWT dari tidak ada menjadi ada; dari tidak berdaya menjadi berdaya, dan berdaya upaya; dari lemah menjadi dapat berbuat sesuatu; dari menangis menjadi kuat dan perkasa serta menguasai alam ini. Itu semua bertujuan agar manusia selalu mengabdi kepada-Nya. Kita diciptakan bukan supaya bermusuh-musuhan, bukan untuk saling membunuh, bukan untuk berfoya-foya, bukan untuk bersanang-senang yang dapat melupakan Sang Pencipta Allah Rabbul Alamin, juga bukan untuk berbuat kerusakan. KIta diciptakan semata-mata untuk beribadah dan mengabdi kepada-Nya. Pengabdian hamba yang baik dan ihlas pasti tidak akan sia-sia. Karena disamping hal itu merupakan bukti kepatuhan dan ketaatan kepada penciptanya, kita juga akan diberi imbalan, balasan yang berupa kebahagiaan di dunia dan akhirat. Jama’ah Shalat Jum’at yang berbahagia Manusia adalah makhluk sosial, makhluk bermasyarakat yang tida bisa hidup sendiri, tapi membutuhkan orang lain. Manusia yang menginginka keturunan pun membutuhkan manusia yang lain. Manusia yang baru dilahirkan dari rahim ibunya tidak berdaya dan tidak dapat berbuat sesusatu, kecuali bergerak dan menangis. Nah, pada saat-saat demikian inilah ia membutuhkan pertolongan orang lain, seperti bidan, dan lain-lain. Manusia yang meninggal dunia tidak bisa memandikan diri sendiri, membungkus dirinya dengan kain kafan, bersembahyang dan mengubur dirinya sendiri, akan tetapi harus dimandikan dibungkus dan dikafan, disembahyangkan dan dikubur oleh orang lain Bahkan untuk makan sesuap nasi pun manusia membutuhkan kerja sama dengan berbagai orang. Mereka akan menerima pahala dan siksa dari Allah besok di akhirat, menurut baik dan buruk yang dikerjakannya. Oleh karena itu, manusia yang akan mengerjakan sesuatu pekerjaan, pasti akan berfikir terlebih dahulu, apakah yang akan dikerjakan itu termasuk kebaikan ataukah keburukan, ketaatan atau kemaksiatan dan kedurhakaan? Apabila yang dikerjakan itu ternyata kebaikan dan ketaatan, pasti ia mendapat pahala. Tapi apabila ternyata keburukan, kemaksiatan dan kedurhakaan, pasti akan mendapat siksa dari Allah SWT. Jama’ah Shalat Jum’at yang berbahagia Jadi manusia akan mendapat pahala karena amal baiknya, dan mendapat dosa dan siksa karena amal jeleknya. Seperti yang difirmankan Allah SWT dalam Al-Qur’an surat az-Zalzalah ayat 7-8 فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَه. وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرّاً يَرَهُ “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia melihat balasannya . Dan barangsiapa yang mengerjakan kejehatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula.” Yang tersebut tadi adalah pahala dan dosa akibat perbuatan sendiri, bukan karena orang lain. Dalam Islam memang tidak ada dosa warisan. Sehingga anak tidak akan menerima bagian sedikit pun dari dosa dosa orang tuanya. Nabi adam AS dan ibunda Hawa pernah melanggar larangan Allah SWT, sedikit pun kita umat manusia sebagai keturunannya tidak diberi dosa warisa dari beliau. Siapa yang berbuat kebaikan, akan mendapat balasan pahala dari Allah SWT, dan siapa yang berbuat kejahatan, akan mendapat siksa dari-Nya. Allah berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 286 لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ “Ia mendapat pahala dari kebajikan yang diusahakan dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya.” Islam menegaskan, bahwa setiap bayi yang keluar dari rahim ibunya itu suci, tidak berdosa sampai ia dewasa. Dan apabila ia telah menjadi orang yang dewasa, maka barulah amal perbuatannya itu dicatat sebagaimana lainnya, yang baik diberi pahala dan yang jahat diberi dosa. Hadis Nabi Muhammad SAW Yang diriwayatkan Abu Ya’la dalam Musnad Tabrani dan Baihaqi menerangkan sebagai berikut كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أوْ يُمَجِّسَانِهِ “Tiap-tiap bayi itu dilahirkan dalam keadaan suci bersih sehingga menjadi fasih lisannya, lalu ayah ibunya menjadikan orang beragama Yahudi, Kristen atau Majusi.” Dan hadis lain yang diriwyatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Dawud dan al-Hakim menerangkan sebagai berikut رُفِعَ الْقَلَمُ عَلَي ثَلَاثَةٍ عَنِ الْمَجْنُوْنِ الْمَغْلُوْبِ عَلَي عَقْلِهِ حَتَّى يَبْرَأَ وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظُ وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ “Pena malaikat itu diangkat maksudnya perbuatan manusia tidak ditulis, tidak dicatat dari tiga macam orang 1. Orang gila hingga ia sembuh gilanya. 2. Orang yang tidur hingga ia terjaga bangun dari tidurnya, dan 3. Anak kecil hingga ia menjadi baligh dewasa." Dalam surat an-Najm ayat 38-41diterangkan sebagai berikut أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى. وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَى. وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى. ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاء الْأَوْفَى “Bahwasannya seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwasannya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang bahwasannya usahanya itu kelak akan diberi balasan yang paling sempurna.” Jama’ah Shalat Jum’at yang berbahagia Dengan demikian, kita dituntut untuk berbuat kkebajikan sebanyak-banyaknya. Karena kita sendirilah yang akan menerima balasan pahala darinya disamping kebehagiaan duniawi. Kita juga dituntut menjauhi kejahatan, kedurhakaan dan kemaksiatan agar menjadi orang yang selamat di dunia dan akhirat. Apabila kita perhatikan firman-firman allah SWT dan sabda-sabda Nabi Muhammad SAW tadi, kita akan dapat memetik kesimpulan sebagai berikut 1. Manusia dilahirkan dalam keadaan suci, tidak mempunyai dosa, baik akibat perbuatannya sendiri maupun akibat perbuatan orang tua atau leluhurnya. 2. Semua pahal atau siksa yang diberikan Allah SWT kepada manusia adalah balasan yang setimpal dari perbuatannya sendiri, baik secara langsung maupun tidak. مَنْ سَنَّ فِيْ الْاِسْلاِمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أنْ يَنْقُصَ مِنْ اُجُوْرِهِمْ شَيْئٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْاِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُمَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أنْ يَنْقُصِ مِنْ أوْزَارِهِمْ شَيْئٌ “Barangsiapa memberikan contoh yang baik dalam Islam maka baginya pahala dan pahala orang yang mengerjakannya sesudahnya tanpa dikurangi sedikit pun dari pahala mereka, dan barangsiapa yang memberikan contoh jelek dalam Islam maka atasnya dosanya dan dosa orang yang mengerjakan sesudahnya tanpa dikurangi sedikit pun dari dosa dosa mereka." Sehubungan dengan hadis tersebut, Allah SWT berfirman dalam surat Yasin Ayat 12 sebagai berikut إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ “Sesungguhnya kami menghidupkan orang orang mati dan kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata lauh-mahfudz." Jama’ah Shalat Jum’at yang berbahagia Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa 1. Kita hendaknya memperbanyak amal shalih demi keselamatan dan kebahagiaan didunia dan akhirat. 2. Kita hendaknya menghindar dari berbuat maksiat agar selamat dari siksa Allah SWT 3. Kita dituntut memberikan contoh-contoh yang baik menurut pandangan Islam, agar mendapatkan pahala perbuatan itu dan pahala orang-orang yang meniru serta mengikutinya sampai hari kiamat 4. Kita dilarang berbuat maksiat atau memberikan contoh-contoh yang jelek menurut pandangan Islam, agar tidak mendapatkan dosanya dan dosa-dosa orang orang yang mengikuti jejaknya sampai hari kiamat. اِنَّ أَحْسَنَ الْكَلاَمِ كَلامُ اللهِ الْمَلِكِ الْعَلّامِ. وَاللهُ يَقُوْلُ وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدِي الْمُهْتَدُوْنَ. وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُواْ لَهُ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ. أعُوْذُ باللهِ مِنَ الشّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَه. وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرّاً يَرَهُ. بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. اِنّهُ تَعَالَى جَوَّادٌ كَرِيْمٌ رَحْمَانٌ رَحِيْمٌ

hamba allah swt yang saleh akan mendapat balasan sempurna berupa